pada tanggal 20 Agustus itu ketika saya kebetulan harus berkhotbah di kumpulan itu, saya melihat sesosok tubuh yang kumal kotor, berewokan, berambut kusut, pake sepatu yang sudah hancur bagian belakangnya sehingga menjadi seperti sandal, bercelana track suit hijau tua yang dekil, berkemeja piyama dan dilapisi dengan jaket hitam yang sudah berubah warnanya juga.
Singkatnya, dia benar-benar kelihatan lebih menyerupai orang utan daripada manusia. Satu-satunya yang meyakinkan saya dia bukan orang utan adalah karena dia setelah duduk di sebuah kursi pada bagian belakang ruangan itu, yang terletak disamping sebuah meja kecil yang khusus disediakan untuk ibu-ibu yang menyusui anak mereka, dia mengeluarkan sebuah HP dari tas butut yang sudah robek dan sangat kotor juga, yang jelas dia pungut dari tumpukan barang rongsokan yang dibuang tetangganya. Saya pikir tentu orang utan tidak mungkin punya HP dan main HP seperti itu.
Tapi justru penampilan yang aneh itulah yang menyebabkan saya memusatkan perhatian saya walaupun sedang berkhotbah didepan. Saya mengambil konklusi bahwa dia itu pastilah seorang gepeng gelandangan yang hanya tertarik untuk datang menikmati makan siang gratis. Saya juga berpikir bahwa pastilah dia akan berbau apek, napasnya berbau alcohol atau tembakau dan jangan-jangan seorang sinting yang tolbeg (tolol bego dan gila) menurut istilah dari seorang kemanakan saya.
Saya tetap melirik kepadanya sekali-sekali karena saya merasa terganggu dan tersinggung dengan sikapnya yang kelihatan acuh tak acuh kepada khotbah saya, padahal anggota-anggota lainnya merasa begitu terkesan dan selalu menyelingi atau menyambut ucapan saya dengan Amen! Atau Praise the Lord!
Disampingya bermain HP terus, dia juga mengeluarkan secarik kertas dan sekali-sekali menuliskan sesuatu diatas kertas itu. Ini berlangsung terus selama lebih sejam sepanjang saya berkhotbah itu. Malah sesudah selesai khotbah dan menyanyikan lagu penutup, dia tetap duduk dan meneruskan menulis dimeja kecil itu pada sepotong kertas yang dia keluarkan tadi dari tasnya.
Waktu selesai kebaktian dan kami berjabatan tangan seperti biasa, si gepeng itu tampak berdiri dan datang mendekati saya. Dalam hati saya mengeluh dalam hati: “Ya ampun, matilah aku ini. Dia pasti akan memonopoli ngobrol dan pasti napasnya berbau segala macam aroma dari tempat sampah dan jamban.”
Dia mulai dengan “Are you a Chinese?” Saya menjawab : Yes, you can call me an Indonesia Born Chinese, but I have been here since 1975, and so I can call myself an Australian as well, can’t I?”
Dia menjawab, “I am an Australian Born Chinese. I am a new comer to the Adventist Church. I am very impressed by your sermon and like it very much.”
Dalam hati saya nyeletuk lagi: “Pembohong sialan, emangnye gue buta kaga bisa melihat. Lu dari tadi Cuma main HP melulu, dan corat coret diatas kertas itu, bagaimana lu bisa bilang lu tertarik dan terkesan dengan khotbahku. Dasar gepeng, sesudah memuji-muji pasti lu bakalan minta sumbangan satu dua dollar untuk membeli rokok atau alcohol. Gua tau taktik golongan orang-orang semacam lu ini!”
Kemudian dia menyodorkan kertas yang sudah penuh dengan tulisan dan sangat rapi itu, persis seperti dicetak dari hasil tulisan diatas computer. Kemudian baru saya perhatikan bahwa kalimat-kalimatnya baik yang dia ucapkan dari tadi dan yang dia pake untuk menulis diatas kertas itu, bukanlah macamnya yang biasa keluar dari orang gelandangan, tetapi menyatakan penulisnya dan pembicaranya adalah seorang yang berpendidikan tinggi. Saya menjadi bingung dan merasa kemalu-maluan.
Sekarang saya malah merasa sangat kecil dan minder didepan si Robert ini. Kemudian dia memperkenalkan dirinya dengan selengkapnya bahwa dia dilahirkan di Australia di sebuah kota pedalaman dari New South Wales, di Wilayah Upper Hunter Region yang kira-kira jauhnya 4 jam perjalanan dengan mobil dari kota Sydney.
Saya bayangkan betapa dia sebenarnya harus menganggap justeru saya ini mempunyai pendidikan yang inferior dari dia karena pasti bagi seorang yang lahir, dibesarkan dan dituakan seperti dia di Australia, pasti akan mendengarkan perbedaan yang jelas dalam ucapan saya yang penuh dengan segala macam logat yang sudah melekat dan bertimbun selama hidup saya ini karena sudah terekspos kepada belasan bahasa-bahasa daerah dan bahasa internasional lainnya.
Kemudian dia menanyakan kalau saya adalah satu-satunya pendeta beretnis Tionghoa di gereja Advent ini. Dia rupanya menarik kesimpulan bahwa gereja Advent itu hanya terdiri dari sekelompok kecil orang-orang yang kurang berpendidikan dan kebanyakan datang dari pulau-pulau di Lautan Pacific atau Negara-negara yang terkebelakang tapi tidak mungkin dianut oleh orang-orang dari Negara berkebudayaan tinggi seperti Amerika, Eropah, Tiongkok dan Russia, misalnya.
Saya menjawab, “Bukan, saya bukan satu-satunya pendeta beretnis Tionghoa. Ada beberapa pendeta lain di Sydney dan di Melbourne yang saya tahu adalah orang-orang Tionghoa.”
Kemudian dia berkata lagi. “Saya sangat terkesan dengan khotbah anda, dan saya ingin mendengar lebih banyak lagi pelajaran tentang kepercayaan gereja ini dari anda. Bolehkan anda membawa saya kemana saja anda pergi untuk berkhotbah?”
Seperti halnya nabi Elia saya terpaksa harus menjawab: “Anda meminta sesuatu yang sangat berat bagi saya untuk mengabulkannya. Saya tidak mungkin memenuhi permintaan anda, bahkan ke tempat-tempat yang ada di kota Sydney, jangan katakan lagi tempat lain yang diluar negeri Bagaimana kalau saya harus pergi ke Indonesia, apakah anda juga harus saya undang untuk ikut dengan saya?”
Disinlah letaknya keunikan dari si Robert Fay ini, dia sudah ditempa oleh Tuhan begitu rupa sehingga dia mempunyai kepercayaan seperti seorang anak kecil yang sangat polos. Dia menjawab: “Bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil. Kalau itu memang kehendakNya, apa pun bisa terjadi.”
Bayangkan seorang gelandangan seperti si Robert ini yang baru saja beberapa bulan mendengar tentang gereja Advent, dan sekarang mengajar saya seorang pendeta Advent tentang Iman. Saya hampir tertawa terbahak-bahak karena merasa geli dan mau menutupi perasaan malu saya harus ditegur oleh Tuhan melalui seorang lugu dan bego seperti dia ini. Tetapi didalam hati saya juga berterima kasih karena Tuhan mau menegur saya karena kasihNya agar saya lebih mempunyai iman kepadaNya dalam perkara yang tampaknya mustahil sekali pun.
Benar juga apa yang dikatakan oleh si Robert ini. Dan bukankah justru itu yang dikatakan oleh Tuhan sendiri?
“Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?”
Saya merasa benar-benar sangat geli dalam hati dan seolah-olah ada suara berbisik kepada saya: “Rasain lu, Sammy Lee. Engkau sekarang diberikan pelajaran oleh seorang yang ibaratnya seorang bayi dalam kerohanian. Bukankah benar apa yang dia katakan itu. Kalau Tuhan menyuruh engkau melakukan sesuatu, apapakah ada sesuatu pun yang terlalu sukar atau mustahil bagi Tuhan untuk melaksanakanNya?” (Kejadian 18:14).
Seminggu kemudian, saya menilpon seorang teman tentang si Robert ini dan keinginannya untuk mendampingi saya sebagai seoang evangelist. Saya ceritakan siapa si Robert ini dan bagaimana Tuhan sudah membuat suatu mujizat yang sangat mengherankan dalam mempertobatkan dia.
Dia menceritakan betapa dia sebenarnya adalah seorang bertalenta berganda, pernah menggondol lusinan piala kejuaraan olah raga Body Building dan Angkat Besi dan selain itu, juga sebagai seorang yang pernah menjadi pengusaha yang sangat berhasil didalam bidang farmasi, dan nutrisi. Jebolan S2 dari salah satu universitas paling top di Australia, pernah memiliki dan berhasil mengelola empat buah farmasi dan satu toko obat herbal Chinese medicine yang tersebar di seluruh benua Australia yaitu satu di Darwin, satu di Townsville, satu di Brisbane dan satu di Sydney, disampingnya toko obat Chinese Herbal Medicine yang juga bertempat di Sydney.
Dia pernah mengalami malapetaka putus urat pada spir lengannya waktu mengikuti pertandingan angkat besi seberat 350 kg atau 796 pon. Sehingga divonis oleh para ahli bedah yang merawat dia bahwa dia akan mengalami lumpuh sebelah tangan kanannya seumur hidupnya. Dia adalah pemegang title kejuaraan dari International Federation of Body Builders, sebagai Mr. Australia, Mr. Asia, Mr. South Pacific dan juga Mr. Universe.
Dia pernah ditipu oleh mitra dagannya sehingga bangkrut usaha farmasinya. Dia juga pernah dua kali ditinggalkan isterinya. Pertama karena dia terlalu berhasil sebagai pengusaha dan terlalu sibuk mengurus dagangnya dan isteri pertamanya itu ingin memiliki setengah dari harta miliknya, dan yang kedua kali karena sebaliknya yaitu dia menjadi miskin papa.
Ini mendorong dia untuk mengambil keputusan membunuh diri dengan melompat dari Sydney Harbour Bridge. Tapi dengan keheranan luar biasa, dia telah diluputkan dari cengkeraman maut.
Sekarang dia dalam kedadaan merana, miskin papa, dan gelandangan, serta agak sinting, tapi rindu untuk membaktikan sisa hidupnya untuk menyaksikan kepada orang lain tentang kuasa, kebijaksanaan dan kasih dari Khalik dan Raja Semesta, the King of the Universe oleh mantan Mr. Universe ini.
Teman saya menjawab: Bawalah dia kemari, nanti kami usahakan membayar tiketnya.
Wow! Saya benar-benar terkesima ketika menyampaikan berita ini kepada si Robert, dan dia hanya menjawab dengan, “Thank you, Jesus.” Sambil mengangkatkan kedua tangannya ke langit.
Dan saya bisa saksikan bahwa sifat ini bukanlah sesuatu yang dibuat-buatnya melainkan adalah benar sifat alami dari dalam lubuk hati sanubarinya. Tiga hari sebelumnya, saya mengundang dia untuk makan siang di sebuah restoran vegetaris di Sydney. Biasanya kami kalau makan di restoran yang banyak pengunjungnya selalu berkata: “Kita berdoa menurut kepercayaan masing-masing saja, ya!” Maksudnya tidak usah berdoa bersama-sama supaya jangan terlalu menarik perhatian umum, berdoa saja dengan diam-diam dalam hati masing-masing,.
Tapi si Robert sebelum pun saya mengatakan apa-apa sudah langsung berkata: “Mari kita berdoa…. Tuhan Yesus, terima kasih untuk kesempatan yang indah ini saya dengan Pastor Lee bisa bertemu lagi. Terima kasih untuk makanan yang sangat sehat dan lezat ini. Terima kasih untuk janji-janjiMu untuk memberkati kami terus. Jadikan kami kuat dan sehat dan selalu bersyukur akan pemberianMu. Dalam namaMu Yesus, Amin!”
Saya begitu terkesimak sehingga menjadi terbatuk-batuk. Dan ini bukan hanya sekali saja. Pada kali lain di restoran yang lain atau sebenarnya bukan restoran tapi Food Court atau Pujasera (Pusat Jajanan Serba Ada), dimana terdapat segala macam kios makanan mengeliling ruangan makanan yang terletak ditengahnya. Disitu juga, tanpa malu, malu atau izin-izin dia langsung menunjukkan dirinya untuk memimpin doa yang dia ucapkan bukan dengan berbisik-bisik tapi dengan suara normal, walaupun tidak berteriak seperti mau pamer, tapi cukup bisa didengar oleh orang-orang yang duduk di meja-meja yang bersebelahan dengan kami.
Tags:
Permalink Reply by Sammy Lee on October 28, 2011 at 9:43am We have been invited to churches of various denominations to preach and give this testimony of God's Great Grace, and I am preparing a DVD and book about him.
I am now in New Zealand writing this book and prepring my manuscripts for the seminars we are going to present in different countries next year.
We have received invitations from several interdenominational churches both in Australia and Indonesia.
God is Marvelous, Might and Merciful, all the time and every time.
He knows what is the best for His children.
His eye is still running to and fro upon the earth to see those whose heart is perfect towards Him and sincerely wish to find Him and worhsip Him. If He can save the thief on the cross and Robert Fay. He can save you too if you are honest and fully surrendered to Him to to His will. There is no limit to his mercy and might to save the worst of sinners.
© 2012 Created by Clark P.